Monday, June 19, 2006

Tahun 2006 dan kita masih ngomongin warna kulit

Sebenarnya obrolan ini udah 2-3 minggu lalu kejadiannya, sehari setelah pertandingan pra-piala dunia antara tim Perancis sama China. Seperti biasanya kita makan siang bareng manager kita (orang Perancis) dikantin kantor. Ngobrol ngalor ngidul akhirnya topik pembicaraannya tentang pertandingan sepak bola itu tadi. Kita setuju, Walaupun tim Perancis menang 3-1 penampilannya jauh dari meyakinkan. Malah cukup mengkhawatirkan.

Manager saya bilang kalo dia nggak kaget kalo timnya sekarang mainnya jelek terus dia bilang kalo dia juga tidak terlalu suka sama tim Perancis sekarang. Saya tanya ke dia 'Kenapa nggak suka?'. 'Iya soalnya sedikit sekali orang Perancisnya' jawab dia. Saya sih langsung mengerti yang dia maksud. Kata dia lagi 'Saya mau liat tim Perancis seperti tim Itali, semuanya orang Itali, tim Jerman juga, semuanya orang Jerman'. 'Nggak kayak tim Perancis, sedikit orang Perancisnya' sambung dia. Terus saya tanya 'Maksudnya?'. 'Iya, kebanyakan orang item-nya' kata dia.

Saya sih udah hapal dengan karakter orang2 seperti ini. Terus saya bilang 'Well, jangan salahkan mereka dong kalo bisa masuk tim nasional, salahin tuh anak2 muda Perancis yang sekarang maunya cuman jadi penyanyi lewat A La Recherche De La Nouvelle Star terus sedikit yang mau maen bola lagi'. Dia jawab 'Well, kamu mungkin bener tapi sayangnya emang terlalu banyak pemain kulit berwarnanya'. Saya tanya ke dia 'Ngomong2, emang yang milih tim nasional itu orang item yah?'. Dia jawab 'No'. Pertanyaan saya sebetulnya nggak perlu jawaban soalnya kita tau kalo pelatih perancis itu berkulit putih. Saya cuma mau dia itu sadar kalo orang mau masuk tim nasional itu harus melewati proses yang panjang dan latihan yang gila banget beratnya. Bukan karena mereka berkulit hitam.

A La Recherche De La Nouvelle Star sendiri itu acara semacam Indonesian Idol yang disini ada sekitar 4 acara yang sejenis. Dulu anak2 muda dikota Marseille maunya jadi footballer yang ngetop kalo ditanya gedenya mau jadi apa. Sekarang? mereka milih jadi penyanyi. Bukan cuman anak2 Marseille tentunya yang terbius mimpi menjadi artis lewat acara2 semacam ini, phenomena ini ada dimana-mana. Lalu kalo akhirnya anak2 muda berkulit hitam yang bernasionalitas Perancis itu menjadi bintang sepak bola dan bermain untuk membela nama Perancis, apakah mereka harus disalahkan?


...

We are second generation
but we are not second class
(potongan lagu TH9 dari Asian Dub Foundation)

Monday, June 05, 2006

Brasil - New Zealand (4-0)

Kemarin sore (5 Juni 2006) ada pertandingan bola persahabatan antara tim piala dunia Brasil dengan tim nasional New Zealand di Stade de Geneve a la Praille. Kebetulan stadion ini tempatnya kira2 10 menit jalan kaki dari rumah kita. Jadi deket banget. Walaupun pertandingannya baru mulai kira2 jam 6:00 sore, orang2 sudah mulai dateng dari tengah hari. Begitu juga pagar pengaman disekitar stadion sudah dipasang dari 2 minggu yang lalu.
Semakin sore semakin banyak orang yang dateng. Warna kuning hijau --warnanya Brasil-- terlihat dimana-mana, rasanya wajar soalnya memang komunitas brasil di geneva lumayan besar. Orang2 non-Brasil juga kebanyakan memilih memakai baju timnya brasil soalnya dianggap lebih cool ;) memakai baju tim juara dunia dibanding tim yang menurut FIFA urutannya masih dibawah tim nasional negara tercinta Indonesia sekalipun. FYI, Indonesia ada diurutan 110 sedangkan NZ ada diurutan 118.


Photo 1: pengamanan ketat utk masuk ke stadion

Saya sendiri nggak nonton langsung distadion, cuma nyempetin diri nengok sebentar kesana motret2 penonton sepak bola. Pendukung Brasil jelas lebih memonopoli suasana.

Photo 2: pendukung Brasil

Dari pertandingannya (nonton di TV) keliatan jelas kalo kedua tim memang bukan dari kelas yang sama. Ampir 80% dari total 94 menit pertandingan, tim brasil menguasai pertandingan. Bola seringan berada didaerah pertahanan NZ. Kalau bukan karena kipernya, Moss, yang jungkir balik mempertahankan gawangnya, sebetulnya tim NZ bisa kalah lebih banyak gol. Moss sering keliatan frustasi terhadap temen2nya terutama pasukan defenders yang gampang banget kelolosan penyerang2 Brasil.

Tapi sebetulnya, ada 2-3 kesempatan emas tim NZ yang sempat mengancam pertahanan Brasil, tapi yah sayang mereka nggak cukup lucky. Kalo saja skor terakhir 4-2 atau 4-3 utk Brasil, NZ masih boleh berbangga bisa menyarangkan gol di gawang lawan. Tapi sayang biar bola masih bundar Brasil punya jauh lebih banyak pemain2 kelas top dunia.

Friday, June 02, 2006

RS4 hmmmmm....... yummy


nyiammmmm nyammm nyammm nyammm..... 420 horse power


phewwww a trully beauty

hmmmmm 13liter/100Km.....

huuuuuuuu...... harganya oy!

I want to break free!!!

Masih inget lagu I want to break free dari grup Inggris, Queen?

Vokalisnya, Freddie Mercury emang sudah meninggal taun '91, tapi sampe sekarang fans-nya dari seluruh dunia nggak pernah lupa sama hit2nya grup ini terus sama gaya flamboyannya si Freddie tea'.


Disamping, photo patung Freddie Mercury di Montreaux Switzerland. 2 minggu lalu kita jalan2 kesana nganterin Khun Laddawan sama adeknya yang lagi berkunjung kesini (utk beli coklat dan jam tangan Swatch --apalagi). Eh pas lagi jalan2 di pinggir danau pas mau ngasoh saya ngeliat patung ini.

'Eh patung si Freddie nih' dalam hati. Langsung aja saya panggil istri, 'Wat wat... eh ada patung si Freddie Queen nih, ambil photonya wat, buat ditaro di blog'. Istri yang selalu equipped sama digital camerya langsung beraksi, maksud saya ngambil photo bukan bergaya didepan patung ;)

Sebetulnya saya nggak tau alesan kenapa disini --dipinggir danau Leman di Montreaux ini-- dipasang patungnya FM. Alasannya mungkin karena kota ini dianggap sejajar dengan kota Cannes di Perancis untuk urusan seninya, mangkanya pemerintahnya mutusin utk bikin patung Freddie musisi top yang lagu2nya banyak mempengaruhi grup2 lain. Mungkin juga alasannya karena tiap taun ada Montreaux Jazz Festival yang ngetop itu digelar dikota ini. Mungkin.